Belu sebagai Food Estate Skala Besar
Di wilayah timur lainnya, food estate atau lumbung pangan juga dikembangkan di Kabupaten Belu, Atambua. Belu merupakan salah satu daerah terdepan dari 21 kabupaten di Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
Kondisi Belu yang sangat asri dan subur membuat sebagian besar masyarakatnya memilih bertani sebagai mata pencaharian utama. Sebanyak 60% masyarakat Belu bertumpu pada sektor pertanian.
Kesuburan daerah tersebut membuat Belu berpeluang besar dalam menghasilkan berbagai bahan utama pangan, diantaranya padi, jagung, dan kacang hijau. Berbagai hasil pertanian tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Melihat potensi tersebut, pemerintah mengembangkan Belu sebagai lumbung pangan berskala besar di wilayah timur. Lahan lumbung pangan seluas 380 hektare di Belu diharapkan bisa menjadi daerah percontohan di Indonesia dalam upaya mengembangankan ketahanan pangan nasional.
Untuk mewujudkan lumbung pangan di kawasan ini, upaya dan dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan. Beberapa bentuk dukungan pembangunan yang diberikan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air di Kabupaten Belu, diantaranya:
1. Rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi, meliputi penggunaan sprinkler di Kabupaten Belu dan pengadaan 250 unit big gun sprinkler;
2. Pembangunan jaringan irigasi air tanah perpipaan sprinkler Kabupaten Belu, meliputi pemanfaatan sumber air dari Bendungan Rotiklot, Haliwen, dan Haekrit untuk melayani kebutuhan air irigasi lahan seluas 156 hektare; dan
3. Rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi air tanah dan air baku, dengan melakukan pemberdayaan air dari 23 sumur air tanah eksisting di Kecamatan Raimanuk, Kakuluk Mesak, Tasifeto Barat dan Tasifeto Timur untuk melayani kebutuhan irigasi seluas 224 hektare.
Upaya pemerintah dalam pengembangan ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur ini terus dikembangkan. Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Belu diharapkan dapat menjadi daerah percontohan di masa depan.
Karena memiliki potensi alam yang sangat besar untuk menjadi kawasan produsen pangan dan lumbung pangan, maka kedua kawasan ini dipastikan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah timur Indonesia. (Hana)
Baca Juga: Tim PUPR Ambil Contoh Tanah di Lokasi Terputusnya Jembatan Perak Lumajang