Suara.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dikabarkan memiliki utang sebesar Rp 70 triliun. Pengamat BUMN Toto Pranoto mengatakan, memang saat ini kondisi bisnis industri penerbangan sedang hancur lebur terkena hantaman pandemi Covid-19.
Dari data IATA, Toto menyebut, perkiraan kerugian seluruh airlines di dunia mencapai 84,3 miliar dolar AS dimana pendapatan airlines rata-rata turun sampai dengan 90 persen.
"Hampir semua flag carrier di ASEAN mengalami kerugian yang cukup dalam termasuk Singapore Airlines yang mengalami kerugian pertama kali dalam sejarah," ungkap Toto saat dihubungi Suara.com, Kamis (27/5/2021).
Tak hanya itu kata dia Thai Airlines dan Philippines Airlines bahkan sudah mengajukan perlindungan terkait UU kebangkrutan.
"Garuda Indonesia termasuk maskapai yang tidak lepas dari kesulitan ini. Saya kira dengan masih terbatasnya pergerakan manusia kerugian GIAA memang akan cukup besar," ungkapnya.
"Upaya diversifikasi ke angkutan cargo secara lebih masif mungkin juga belum menghasilkan kinerja yang signifikan," tambahnya.
Menurut dia aspect financing sangat krusial di era pandemi dan pasca pandemi nanti. Hampir semua flag carrier mendapat tambahan injeksi modal dari negara buat bertahan hidup.
Karena pendanaan negara terbatas, maka selain pinjaman modal kerja dari pemerintah, GIAA juga harus mampu memperoleh alternatif financing lainnya.
"Misal dengan refinancing hutang jatuh tempo, maupun refinancing dari mitra pemasok. Pengurangan jumlah SDM juga merupakan langkah turnaround yang dilakukan banyak maskapai lainnya," sarannya.
Baca Juga: Utang Garuda Indonesia Tembus Rp 70 Triliun, Pantas Efisiensi Besar-besaran
Sebelumnya Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, hingga saat ini utang maskapai plat merah ini telah mencapai Rp 70 triliun.